Menulis dengan hati
Menulis dengan hati adalah kata yang tepat , bila mana ketika membaca sebuah tulisan di blog kawan-kawan.Membuat diri menjadi berfikir dan termenung .Seolah-olah kata-kata yang ditulis kawan-kawan sekalian seolah untuk menasehati kita bagi yang membacanya. Terlepas niat dan maksud tujuan tulisan tersebut di terbitkan. Apatah itu sebuah kisah nyata, fiksi, puisi ataupun sebuah prosa sekalipun. Ketika membaca satu persatu tulisan itu di baca dengan seksama dan memaknai tulisan tersebut dengan keikhlasan kita untuk membacanya dan tanpa disadari tersentuhlah hati bahkan terkadang buliran airmata itu keluar tanpa bisa di cegah. Ada persaan yang lain yang membuat diri sesengukan ketika makna itu sampai ke hati ini. Sebuah perasaan, entah kecegegan ataukah sebuah keharuan.
Menulis dengan hati, tak semua penulis akan mampu seperti itu. Nilai ruh sebuah tulisan terlihat dari pemilihan kata , makna yang terkandung sebuah tulisan dan pelajaran apa yang dapat kita ambil hikmah sebuah tulisan. ketika membacanyapun perlu dan harus dengan ikhlas bila membaca dengan suasana yang terburu-buru dan hanya sekedar membacanya maka bisa jadi makna yang terkandung ataupun pesan dari sebuah tulisan tak berarti apa-apa. bahkan terasa hambar. dan seringkali kitapun berkoment hanya sekedar koment seperti hanya sekedar mengejar target untuk dikunjungi balik. hmm sebuah pengakuan yang naif. (tertunduk dan merenung)
Menulis dengan hati, seperti seorang penulis terkenal yang NOvelnya telah dijadikan film. Ketika itu kami berbicara empat mata dengannya proses kreatif karya seninya didasari dari sebuah misi dan visi yang mulia dan di gerakan oleh hati dan melakukan sebuah kontemplasi (beribadah) dengan khusyu di waktu malam dan kapan saja serta berdoa Kepada Allah. Setelah itu menulislah ia dengan lancar. Sebuah proses kreatif yang perlu di contoh. Aku ingat seorang penulis seorang arifin c Noer ketika proses kreatif karya seninya di awali karena ia sering berjalan di pingir rel kereta api saat itu ketika ia di yogyakarta. setiap hari berjalan disitu sehinga pada suatu ketika maka sebuah tulisanpun mengalir begitu deras.
Aku terpikir dan merenung sambil berguman dari hati , kenapa aku tak dapat menulis dengan lancar pada saat ini . Apakah diri ini menulis tidak dengan hati. Sebuah perenungan untuk diri sendiri . Semoga aku dapat menulis dengan hati. Amien
Masukan ini dipos pada November 10, 2009 01:49 dan disimpan pada Bergerak maju dengan kaitan (tags) menulis, menulis dengan hati, proses kreatif, tulisan. Anda dapat mengikuti semua aliran respons RSS 2.0 dari masukan ini Anda dapat memberikan tanggapan, atau trackback dari situs anda.
November 10, 2009 pada 01:55
(Maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu! … boleh kan?
November 10, 2009 pada 02:21
boleh saja sob, udah ngopay alun
November 10, 2009 pada 05:15
(maaf) izin mengamankan KETIGA dulu. Boleh kan?!
Tadi malam ke sini, komennya ditutup. Kenapa, ya?
November 10, 2009 pada 01:56
benar mas menulis dengan hati itu tidak gampang. harus benar2 dari hati sehingga kata2 dan tulisannya menyentuh dan mungkin saja bisa menjadi renungan bagi yang membaca
November 10, 2009 pada 02:23
bersyukurkan bila tulisan kita mampu membuat orang yang membacanya menjadi sadar diri
November 10, 2009 pada 05:19
mas alam maaf tadi malam ada kesalahan tehnis dan kulihat ternyata kok ditutup komentnya aku sendiri baru nyadar setelah di publish , akhirnya di publish ulang dah. maaf mas.
November 10, 2009 pada 03:57
Aku bermimpi untuk selalu bisa menulis dengan hati, namun ternyata itu tak semudah diucapkan. Hati harus dikosongkan dari segala macam kepentingan (kepentingan duniawi yang dapat merusak kebersihannya). Dan ketika yang tersisa di dalam hati itu hanyalah kebaikan dan keinginan untuk menyebarkannya, maka insyaALLAH pada saat itu lah kita bisa menorehkan huruf, kata per kata, kalimat, serta paragraf demi paragraf dengan ketulusan. Dan insyaALLAH akan bisa diterima dengan hati oleh pembacanya, dengan catatan yang membacanya pun harus dengan hati pula.
November 10, 2009 pada 05:15
Insya Allah tak akan sekedar mimpi namun dengan sebuah pemahaman maka apapun aktivitas kita termasuk di niatkan karena ibadah maka tulisanpun bergulir dengan sendirinya karena hati. amien semoga ketulusan itu akan tetap hadir dalam setiap saat amien
November 10, 2009 pada 06:19
wew… ikutan lomba menulis yg itu yaa kak…. yup, mari menulis dengan hati.
November 10, 2009 pada 12:23
wah belom pernahikut lomba, abis nulisnya juga masih jauh dari kesempurnaan. baru tahapan membiasakan menulis
November 10, 2009 pada 07:40
menulis dengan hati pasti hasil yang didapat memuaskan,,hehe selamat pagi nih gimana kabarnya?
November 10, 2009 pada 13:14
puas batinnya , kabar siang ini baik.sepertinya bogor agak mendung
November 10, 2009 pada 07:48
menulis dengan hati. saya sdh membuktikan. ide yg tercetus akan mengalir begitu saja ketika jemari kita menyentuh tuts2 keyboard. seperti ada yang menuntunnya.
menulis dengan hati. tidak serta merta datang begitu saja, ada proses belajarnya. hati yg lapang membuat fikiran tenang.
November 10, 2009 pada 13:15
rupanya perlu pembiasaan ya kang
November 10, 2009 pada 08:07
Saya sering sekali menulis dengan hati, namun tetap sumpah serapah yang tercipta maka saya putuskan untuk menulis ikut memerankan otak juga
November 10, 2009 pada 13:18
hati dan otak saling mendukung
November 10, 2009 pada 11:02
menurut saya, tergantung dengan tulisannya. Tulisan cerita, inspirasi, curhat, memang lebih banyak memakai hati. Tapi untuk tulisan2 teknis seperti liputan, tutorial, dan orientasi objek, lebih banyak pakai pikiran hehe.
November 10, 2009 pada 13:19
bener bang, stuju
November 10, 2009 pada 12:15
selama ini saya memposting tulisan diblog semua langsung tertuang ketika jemari ini menyentuh tuts tuts keyboard dan pastinya ketika saya menulis itu hatilah yang bermain dan berperan
November 10, 2009 pada 13:20
apalagi tulisan dengan ketulusan pasti hati yang bermain
November 10, 2009 pada 12:27
setuju banget mas…
segala sesuatu yang dikerjakan dan dimulai dari hati, pasti diirngi dengan niat baik…
menulis dengan hati pasti akan memberikan manfaat tulisan yang besar…
salam…
November 10, 2009 pada 13:22
terima kasih atas kunjungannya
November 10, 2009 pada 12:31
menulis dengan hati..
yap itu yang terbaik yg bisa kita tulis
walau kadang suasana hati sedang mengacau balau
tapi ketulusan n kejujuran slalu mengemuka
saat hati yang menulis
November 10, 2009 pada 13:28
dengan menulis dengan hati sepertinya hati ini menjadi plong
November 10, 2009 pada 13:27
tulisan yang ditulis dengan hati memang akan terasa lebih enak dibaca
November 10, 2009 pada 13:29
malah sampe terhanyut ketika membacanya
November 10, 2009 pada 13:32
memang, saya juga sering menjumpai tulisan yang ditulis dengan hati akan beda jiwanya, walau dari seorang yang tidak bisa menulis sekalipun.
November 10, 2009 pada 14:11
makin bagus aja postingannya
akhirnya kita bersua jg semalam kawan
November 10, 2009 pada 14:25
Pasti semua tulisan karangan sang blogger sendiri tentunya keluar dari hati..kecuali yang copy paste-an kalo lagi males main hati…hehe.
November 10, 2009 pada 14:42
Wah..makin kreatif saja kawan kita nih…
November 10, 2009 pada 16:03
Kasih dong tips & triknya menulis dengan hati
Aku pernah ngirim cerpen ke suatu majalah, ditolak karena katanya kurang punya emosi.
Sampe sekarang aku gak tahu gimana caranya memberikan sentuhan emosi dalam tulisanku. Makanya tulisanku di blog terkesan garing ya
November 10, 2009 pada 16:04
hmmmm…ini pun contoh tulisan dari hati yah kawan….
tapi menulis dari hati biasanya tergantung mood…
saat mood terasa melankolis menurut saya saat yang tepat untuk menulis..
November 10, 2009 pada 16:28
Berbeda suku, berbeda golongan dan agama
Bhinneka Tunggal Ika kami yang pertama
Bahu membahu, bimbing saling membimbing
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing
————————————
selamat hari pahlawan ya..
November 10, 2009 pada 18:14
seperti tulisan ini, keluar dari hati sehingga pembaca akan meuntaskan sampai akhir sebelum meninggalkan halaman ini.
November 10, 2009 pada 18:54
memang sulit… aku aja membutuhkan waktu lama…
walaupun masih kurang sempurna sepertinya.
November 10, 2009 pada 19:08
Kata kawanku yang dodol… emangnya bisa menulis dengan hati?? menulis itu ‘kan dengan pensil atau pulpen…
^^V
Alangkah bahagianya bila tulisan yang kita buat dengan sepenuh hati, dibaca oleh orang lain dengan sepenuh hati pula…
November 10, 2009 pada 20:27
sampai saat ini saia merasa blom bisa menuLis dengan hati..:(
November 10, 2009 pada 21:30
Sebenarnya tulisan harus ditulis dengan renungan dan hati yang dalam sehingga dapat membuat pembaca dapat meresapi (tafakur) walau sejenak.
Salam kenal bro.
November 12, 2009 pada 12:53
Amiin..
iyah pen ban9ed menulis dari hati *inya Allah bisa ya sob
kadan9 klu baca postin9an sahabat hutaners ju9a suka berkaca2 matana klu isina nyentuh ban9ed..
btw tulisan aku da dari hati belum ban9 azam
November 14, 2009 pada 21:46
saya barangkali belum bisa menulis dengan hati. Karena saat menulis tiba-tiba buntu di tengah jalan…
tapi saat ini saya masih menulis dengan keyboard…
November 23, 2009 pada 08:43
mas/mba yang punya blog tukeran link yuk…
link saya taro di sini…
trus konfirmasi ke saya
tar linknya saya pasang di blog saya..gmn??
Terima kasih Sebelumnya