Alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar cukup jelas dari masjid dekat rumahku, mengantarkan diri pada perenungan hakikat kehidupan yang hakiki. Sebuah kisah klasik anak manusia yang selalu menjadi kisah sepanjang masa, yaitu Pertaubatan sebuah nurani akhir dari sebuah masa lalu. Ketika masa lalu menjadi sebuah kenangan, dan kenangan itu membekas menjadi sebuah prolog dari sebuah kesadaran diri yang mengangungkan maka sebuah simbolisasi pertaubatan akan meluncur bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya maka hakekat kehidupan yang hakiki telah di tabuh dari seorang manusia yang dikatkan beriman.Sebuah renungan romadhon dalam penghabaan diri kepada khaliknya .

Firah diri yang suci akan mengantarkan diri ini kembali kepada kesucian diri. dalam menuju proses tersebut memang tidak semulus, seperti orang membuang sampah,di lempar ke dalam  di tong sampah dan tidak semudah itu, sampah harus disapu dikumpulkan menjadi satu, sampah-sampah yang kecil harus dipungut agar tidak terlewat. setelah itu di cek lagi apakah semua sampah yang mau kita buang apakah masih ada apa belum. setelah semuanya terkumpul maka dibuanglah sampah tersebut. Begitu juga sebuah pertaubatan merupakan sebuah proses. Mengkristalisasikan energi pertaubatan tidak serta merta akan timbul  begitu saja. Ada rancangan hati yang ingin berubah namun sering juga proses tersebut tidak berlaku bagi Allah karena apa banyak kisah yang spektakuler sebuah pertaubatan terjadi karena sentuhan kecil dari sebuah titik nurani. Ketika hanya melihat orang berjalan ke Masjid dengan seyuman ikhlas. atau ketika seorang pemulung membaca Qur’an disela-sela istirahatnya ataupun hanya seorang tukang becak yang tak mau di bayar karena hanya ingin bersodakoh kepada penumpangnya karena ia tidak bisa bersodakoh dengan uangnya. Hal ini mungkin sepele tapi itu besar bagi orang yang sudah tersentuh hatinya.

Ketika proses itu berjalan, sebuah inisiatif harus dilakukan bagi orang – orang disekitarnya untuk membagi kebahagian dalam sebuah proses perubahan. Karena apa tidak semua pertaubatan akan mengalami kemajuan. Kenangan-kenagan yang tak terlupakan akan hadir menghibur dir, mengajak untuk kembali kepada masa lalu yang hitam pekat , hawa nafsu akaan terus menjadi teman hingga apa yang menjadi keinginan itu tercapai. Disinilah dorongan niat yang kuat akan membendung untuk menahan keinginan-keinginan yang diangap tak layak untuk  dilasaksanakan.sehinga pertarungan antara nurani dan nafsu akan terlihat smapai diujung kematian.Itulah yang dinamakan proses sebuah pertaubatan yang akan berakhir hingga sisa waktu kita habis ditelan bumi. Maka bergerak tak pernah mati adalah sebuah nurani yang terus dipupuk sampai darah ini berhenti.

Sahabat tentu ada kegelisahan bagi kita semua yang mengaku beriman dan tidak patut kiranya kita merasa nyaman bahwa diri ini sudah berubah. Apa yang telah berubah saudaraku bila kita tak mampu memaksimalkan ibadah kita di bulan suci ini. Masihkah kita mengawang-ngawang dilangit ketujuh hanya sebuah niat saja. Apakah kita tidak gelisah bahwa romadhon akan berakhir dan waktu sisa kita akan berakhir. dimanakah diri ini yang hanya berdiam diri saja. Munafikah kita bila kita adalah orang-orang yang cukup paham tapi dalam praktek sosial kita jauh pangang dari api. Hanya orang-orang yang bodohlah yang merasa nyaman terhadap diri. mari segera lakukan Pertaubatan sebuah nurani akhir dari sebuah masa lalu, bersegera menuju ampunannya. Dalam sebuah renungan romadhon dalam penghabaan diri kepada khaliknya .

Iklan