tertidur panjang kawan, dalam prosesi yang mengaduh , menghiba tak terasa waktu terus bergulir.mematahkan gejolak hati yang terus bergeluruh menuju pembaringan ketika dalam kelelahan yang sangat.mengernyitkan kening dalam suasana kehinangan malam yang tak mampu di tembus oleh kata yang berangsur – angsur hanya terdiam, memenuhi keinginan sang waktu.yang terus meminjam kata ketika dalam seyuman.

Ketika dalam seyuman aku berangsur memarahi diri tuk katakan dimana tidakanmu wahai nurani pagi. mana idealismu nurani kata yang tak menembus jiwa yang lusuh ini. aku hanya katakan ,”aku hanya orang biasa yang tak mampu bersikap lebih baik. hempaskan jiwa dengan keluguan tanpa membuatmu terseyum. Disini dalam sekejap kata , aku mampu berkata dalam sebait ataupun separgaraf kata-kata yang bermakna sejuta cinta untukmu.Walau ketika dalam seyuman itupun tak membuatmu meyelami kataku dengan pengharapan yang tulus.

Aku terduduk diam mengharap engkau kasihku, ketika dalam seyuman mengaduh iba. hey wahai jiwa yang tulus apakah engakau mengerti dalam bait-baitku yang tak mau kuperdengarkan. terdiam bisu tak berharap kata walau sebaitpun tak kau ucapkan.aku disini tak mapu mengerakan hatimu tuk datang kepada hatiku walau ku berharap dengan selaksa ketulusan hatiku yang terdalam .semoga cinta itu hadir walau hanya segegam harapan dan ketika dalam seyum mentarikan hadir dalam qolbuku.hempas jiwa yang lusuh ini bergeluruh Qolbu.Tampakah kemilau itu . entah hanya Allahlah yang mampu mendatangkan seyuman
itu padaku πŸ™‚

Iklan