Siang hari dikedai itu, aku tertunduk lesu menghadap kejalan dengan tatapan kosong. Tak tau apa yang harus kukatakan kepada angin malam. Ketika jiwa ini tertidur walau mentari tampak begitu tak bersahabat. Sebuah iringan mobil jenajah beriringan menuju markas kematian yaitu kuburan.Kata yang membuat kita takut karena lemahnya jiwa ini.

Di kedai itu kembali menghadapi kesunyian hati yang terlintas sejak dimulainya api peperangan oleh sang jiwa .Berperang melawan kesunyian diri yang terus merambah sunyi hinga mencapai arti diri menempuh perjalan sang waktu hingga mencapai markas kematian. Sebuah episode kehidupan yang terus bergulir walau di tengah keramaian.

Menjalani hari berbagi dalam maya yang terus berkata-kata walau engkau tak membaca arti dari sebuah kata-kata sehinga kata itu terus meluncur walau sempat terhenti namun berepisode hinga terkadang kematian katapun mencapai klimaksnya namun terus di tulis dalam episode di dunia maya. yang entah kapan akan berakhir mungkin sampai ketika jiwa ini datang ke markas kematian . Tepat di kedai itu. Ia diam tak mampu berkata – kata , hanya seribu kebimbangan tak layak di perdengarkan dalam bentuk apapun.

Mengapai hari terus berbagi dalam kesuyian kata yang ingin ramai di perbicangkan. Menuntut asa yang terus membuncah hilang lenyap ditelan malam yang kelam. Jiwa yang rapuh mengharap kasih berlabuh di dermaga hati. Oh kasihku mengapa engkau tertidur ketika separuh hatiku telah kuberikan untukmu. Wahai jiwa – jiwa petangguh aku harap engkau datang membawa selaksa cinta dengan seyum yang tulus.Sebelum aku menuju ke dalam Markas kematian

Iklan