Doa dan Terapi Khusus Bebas Insomnia dan Gangguan Tidur

Doa dan terapi khusus bebas imsomnia dan ganguan tidur

Doa dan terapi khusus bebas imsomnia dan ganguan tidur

Judul : Doa & Terapi Khusus Bebas Insomnia dan Gangguan Tidur;

Penulis : Ust. Mujtahidin & dr. M. Ali Toha Assegaf

Penerbit : Pustaka IMaN

Terbit : Juli, 2012

Halaman : 255

Suatu ketika Zaid bin Tsabit, seorang sahabat terkemuka yang dikenal sebagai pencatat wahyu, datang menemui Rasulullah Saw. Ia berkunjung untuk mengadukan susah tidur yang dideritanya. Lalu Nabi Saw memberinya sebuah doa, dan sahabat ini pun mengamalkannya. Hingga akhirnya ia mengabarkan dirinya sembuh.

Apa yang diderita Zaid, yang kini lebih dikenal dengan insomnia, tergolong penyakit yang jumlah penderitanya banyak. Malah, penyakit ini terus meningkat seiring dengan kian kerasnya tekanan hidup. Tahun 2004 saja, misalnya, riset internasional oleh US Census Bureau menyebutkan 28 juta penduduk Indonesia menderita insomnia. Dan 10-15 persen dari mereka adalah pengidap insomnia kronis.

Adalah penulis buku ini yang juga mengaku pernah terserang insomnia. Dalam pengantar, ia bercerita bukan main tersiksanya menanggung penyakit yang satu ini. Kurang lebih satu tahun ia hanya bisa tidur menjelang pagi dini hari. Pernah suatu ketika ia paksa-paksakan tidur, malah ia makin tersiksa. Di kepalanya seakan ada baling-baling yang terus berputar kencang. Akibatnya, di siang hari ia sering lemas, tidak ada gairah bahkan jadi pelupa. Namun, lanjutnya, alhamdulillah, melalui berbagai upaya terapi dan doa akhirnya ia sembuh.

Pengalaman itulah yang kemudian mendorong penyusun buku ini untuk melakukan “riset”, mewawancara para penderita insomnia untuk berbagi pengalaman sembuh dari penyakit berat ini. Dan hasilnya dituangkan dalam buku ini. Terungkap kasus-kasus kesembuhan yang biasa maupun “luar biasa”, yang melalui terapi obat dan doa maupun yang hanya melalui doa dan terapi zikir saja. Untuk kasus terakhir, buku ini sekaligus menghadirkan kasus yang menjadi tantangan dan pertanyaan buat riset medis selanjutnya.

Taruhlah pengalaman seorang Herlita (28 tahun), seorang karyawan swata yang tinggal di bilangan Jakarta Selatan. Selama 4 tahun sering ia hanya bisa tidur jam 4 pagi, hingga akhirnya sembuh tanpa bantuan obat. “Alhamdulillah, katanya, “hingga saat ini tidur saya kembali normal tanpa bantuan obat tidur sebutir pun.” Ia mengaku pemicu penyakitnya adalah stress berat. Awalnya ia berjuang dengan menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas agar badan lelah hingga bisa pulas tidur, namun cara ini tidak berhasil. Selanjutnya, malam-malam dalam susah tidur ia lawan dengan shalat malam dan membaca surah-surah Al-Quran, dan inilah yang menurutnya akhirnya menenangkan dan membuatnya sembuh.

Biarpun ada kasus kesembuhan tanpa obat, namun buku ini mengajarkan dengan bukti-bukti empiris yang meyakinkan, bahwa doa dan terapi medis maupun non-medis merupakan kesatuan ikhtiar yang tak dapat dipisah-pisahkan. Bila doa pada zaman modern ini telah disebut Herbert Benson, seorang dokter peneliti medis dari Harvard University sebagai berpengaruh pada kesehatan, demikian itulah yang diisyaratkan oleh sebuah hadis qudsi. Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as.: “Istiqamahlah dalam berdoa, maka kalian akan diliputi rahmah (dengan pengabulan doa tersebut) dan kalian merasa senang dengan nikmat kesehatan.”

Lebih jauh, di samping menyajikan berbagai pengalaman kesembuhan dan berbagai doa dari Al-Quran dan hadis, tak kalah pentingnya buku ini-yang merupakan karya bersama seorang ustad dan dokter-juga memuat penjelasan ringan tentang terapi medis dan non-medis untuk insomnia.

Maka, dalam buku mungil ini, pengalaman sembuh tidak dibiarkan subjektif menurut kehendak penafsiran sang penderita, sebaliknya dibagikan secara terbuka untuk dipetik hikmah dan manfaatnya maupun diverifikasi oleh riset lebih lanjut.

Akhirnya, meskipun data buku ini belum diuji lebih jauh, namun semangat berbagi pengalaman dan penjelasannya merupakan tambang informasi yang amat berharga.

Cecep Romli, pemerhati dan pekerja buku.