Imunisasi adalah halal sebuah fatwa majelis ulama indonesia (MUI)pusat

Imunisasi adalah halal sebuah fatwa majelis ulama indonesia (MUI)  . Ketika kita meyakini bahwa Majelis ulama adalah salah satu dari lembaga yang di akui pemerinta sebagai institusi Umat Muslim (Islam) di indonesia maka apa yang di fatwakan majelis ulama indonesia adalah mengikat sebagai warga negara Indonesia yang nota bene Muslim. Termasuk menyoal sebuah pendapat tentang bahaya Vaksinasi imunisasi. Dari berbagai tulisan banyak telah di tulis ada yang pro dan kontra tentunya. Tentu saja hal ini meresahkan masyarakat karena umat muslim akan menjadi bingung pendapat mana yang akan diambil. Untuk itu penting di laksanakan Seminar nasional mengenai pro kontra mengenai vaksin imunisasi.

Seminar nasional pro kontra mengenai vaksin imunisasi ini perlu di undang baik yang kontra maupun yang pro. Tapi intinya ini bukan masalah pro atau kontra namun mencari solusi yang terbaik. Majelis ulama indonesia sangat kompeten membahas vaksin imunisasi ini. Pemerintah sebagai regulator memang perlu menjelaskan tentang program imunisasi. Dan yang utama para peneliti yang meniliti tentang vaksin imunisasi. Ya tentu saja kita sebagai warga negara indonesia yang muslim akan khawatir bila vaksin ini terbukti haram. Namun Majelis ulama indonesia (MUI) sudah memfatwakan  halal. Jadi sebenarnya ke khawatiran bahwa vaksin imunisasi ini adalah haram sudah terbantah. Namun  sebagai bahan masukan oleh MUI perlu dan penting.

Berikut adalah IMUNISASI, PENCEGAHANPENYAKIT, DAN JAMINAN HALAL Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat

MuI imunisasi halal — Presentation Transcript

1. IMUNISASI, PENCEGAHANPENYAKIT, DAN JAMINAN HALAL Dr. HM. Asrorun Niam Sholeh, MA Sekretaris Komisi Fatwa MUI PusatDipresentasikan pada acara Workshop “Perumusan Strategi Akselerasi Penurunan DisparitasWilayah Cakupan Imunisasi dalam Rangka Mendukung Penurunan Angka Kematian Anak” Jakarta, 16 Juli 2012.
2. IMUNISASI DAN UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT: Perspektif Fikih
3. PRINSIP DASAR1. Inti ajaran Islam adalah merealisasikan kemaslahatan (jalb al-mashlahah) dan mencegah terjadinya kemadaratan (dafu al-madlarrah). Bahaya di sini adalah yang menimpa manusia baik bahaya yang mengancam fisik maupun psikis.2. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba sekaligus khalifah Allah SWT di muka bumi ini dengan baik.3. Dengan demikian Islam sangat mendorong umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan.4. Menjaga kesehatan dapat dilakukan pada dua fase; (i) melakukan upaya preventif agar tidak terkena penyakit; dan (ii) berobat manakala sakit agar diperoleh kesehatan kembali.5. Salah satu langkah lengkah preventif menjaga kesehatan adalah mencegah timbulnya penyakit yang sedang mewabah, salah satunya melalui vaksinasi.6. Masalah kemudian muncul ketika diketahui bahwa dalam proses pembuatan vaksin menggunakan barang haram/najis atau berinteraksi dengan barang haram/najis, seperti porcine (khinzir).
4. Perspektif Islam tentang Kesehatan keutamaan mukmin yang secara fisik lebih kuat Anjuran untuk hidup sehat  Berolahraga  Makan yang halal dan bergizi  Menghindari yang membahayakan
5. Imunitas dan Kekebalan Tubuh Keharusan memberikan air susu yang pertama keluar (colostrum, al-liba’– ) kepada anaknya. Kaedah fiqihiyyah Melalui kaidah ini dapat difahami bahwa menolak penyakit dengan daya kebal dan daya tangkal yang kuat itu lebih utama, lebih ampuh dan lebih mudah daripada menyembuhkan penyakit yang sudah terlanjur menempel pada badan manusia. Dalam konteks kesehatan ibu dan anak misalnya, imunisasi dan pemberian asi serta makanan bergizi harus mendapatkan perhatian utama dalam upaya menciptakan generasi yang sehat.
6. Fikih Pencegahan Penyakit Perintah untuk menjaga kesehatan, dengan sendirinya adalah perintah untuk melakukan seluruh sarana yang mewujudkan kesehatan, dan menghindarkan diri hal yang menyebabkan ketidaksehatan, juga melakukan langkah preventif untuk mencegah terjadinya penyakit. Salah satu teori hukum Islam yang dipakai oleh ulama madzhab dalam penetapan hukum adalah sadd al-dzariah, yaitu menutup peluang terjadinya akibat buruk atau tindakan preventif atas dampak yang ditimbulkan.
7. Fikih Pencegahan Penyakit Dalam perspektif hukum Islam, pencegahan penyakit hukumnya wajib untuk merealisaikan tujuan yang lebih besar, yakni kemaslahatan dan kesehatan yang paripurna. Pencegahan secara dini terhadap terjangkitnya suatu penyakit, seperti dengan imunisasi polio, campak, dan juga DPT serta BCG, termasuk vaksinasi meningitis adalah cermin perintah untuk menjaga kesehatan secara preventif.
8. ASI, Pola hidup sehat Mencegah Penyakit VaksinasiMenjaga Kesehatan Berobat pada saat sakit Vaksin Halal Vaksin Haram/Najis  Darurat/Hajat Sementara Vaksin Halal
9. Manfaat dan Urgensi VaksinasiFungsi dan Urgensi Vaksinasi Bahaya dan Dampak Tidak Divaksinasi Mencegah didahulukan Alternatif Obat Lain, seperti : Antibiotik, Multivitamin, dsb Alternatif-Alternatif Lain
10. PRINSIP IKHTIAR: MENCEGAHPENYAKIT DAN BEROBAT JIKASAKIT
11. Landasan Normatif  Dari Habib bin Abi Tsabit ia berkata: Saya mendengar Ibrahim bin Sad berkata: Saya mendengar Usamah bin Zaid berbincang dengan Sad tentang apa yang didengar dari nabi saw bahwa beliau bersabda: “Bila kalian mendengar ada wabah penyakit di suatu daerah maka jangan masuk ke daerah wabah tersebut. Dan bila wabah tersebut telah terjadi di suatu daerah sedang kalian berada di situ, maka jangan keluar dari daerah tersebut”. (HR. Bukhari)Hadis ini menjelaskan langkah preventif yang defensif;(i) seruan untuk menjauhi daerah yang terkena wabah penyakit untuk mencegah terjadinya penularan;(ii) perihal karantina dan isolasi atas suatu wabah penyakit akan tidak terjadi penularan meluas, keluar dari daerah pandemic.
12. Landasan Normatif  Dari Sad bin Abi Waqqash ra ia berkata: Saya mendengar rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”. (HR. Muslim) Petunjuk nabi saw ini menegaskan mengenai tindakan preventif secara proaktif, dengan jalan memakan tujuh butir kurma madinah agar terhindar dari penyakit.
13. BEROBAT HARUSMENGGUNAKAN SARANA YANGHALAL
14. BEROBAT DENGAN YANG HALAL Dalam fikih Islam, berobat harus menggunakan barang yang halal. Ditegaskan, Allah tidak menjadikan obat pada barang yang haram. Untuk menghasilkan produk halal, di samping bahannya (dzat) harus halal, proses produksinya juga terjaga dari kontaminasi bahan haram dan/atau najis.
15. Landasan Normatif  “Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit; maka, berobatlah dan janganlah berobat dengan benda yang haram.” (HR. Abu Daud dari Abu Darda).”  “Allah tidakmenjadikan obatmu pada sesuatu yang diharamkan atasmu”  “Rasulullah SAW ditanya tentang tikus yang jatuh ke dalam keju. Beliau SAW menjawab: ”Jika keju itu keras (padat), buanglah tikus itu dan keju sekitarnya, dan makanlah (sisa) keju tersebut; namun jika keju itu cair, maka janganlah kamu memakannya” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).  Rasulullah saw melarang berobat dengan obat yang kotor
16. Prinsip Pengobatan Halal Pada prinsipnya pengobatan harus dilakukan dengan barang yang halal. Penggunaan barang halal tidak terbatas pada dzatnya, melainkan juga di dalam proses produksinya. Barang yang halal, jika diproduksi dengan melalui proses yang tidak benar secara fikih, misalnya menggunakan bahan baku atau bahan penolong yang haram/najis maka hukumnya tetap haram sepanjang belum dilakukan penyucian secara syari. Hal ini berlaku umum, baik bagi makanan, minuman, maupun obat-obatan yang kepentingannya untuk dikonsumsi.
17. FATWA MUI TERKAIT DENGANVAKSINASI UNTUK ANAK
18. Fatwa tentang Makanan dan Minumanyang Bercampur dengan BarangHaram/Najis (1 Juni 1980)1. Setiap makanan dan minuman yang jelas bercampur dengan barang haram/najis hukumnya haram.2. Setiap makanan dan minuman yang diragukan bercampur dengan barang haram/najis hendaknya ditinggalkan.3. Adanya makanan dan minuman yang diragukan bercampur dengan barang haram/najis hendaklah Majelis Ulama Indonesia meminta kepada instansi yang bersangkutan memeriksanya di laboratorium untuk dapat ditentukan hukumnya.
19. FATWA TENTANG PENGGUNAANVAKSIN POLIO KHUSUS (IPV) Tahun20021. Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari –atau mengandung– benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.2. Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.
20. Rekomendasi Pemerintah hendaknya mengkampanyekan agar setiap ibu memberikan ASI, terutama colostrum ( ), secara memadai (sampai dengan dua tahun). Pemerintah hendaknya mengupayakan secara maksimal, serta melalui WHO dan negara- negara berpenduduk muslim, agar memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan yang suci dan halal.
21. FATWA TENTANG PENGGUNAANVAKSIN POLIO ORAL (OPV) Tahun20051. Pada dasarnya, penggunaan obat- obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari — atau mengandung– benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.2. Pemberian vaksin OPV kepada kepada seluruh balita, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada OPV jenis lain yang produksinya menggunakan media dan proses yang sesuai dengan syariat Islam.
22. Vaksin (Produk/Benda) Bahan Baku Proses Produksi Bahan Penolong Hasil AkhirMasalah Fungsi dan Urgensi Vaksin Vaksinasi Regulasi/Peraturan dan Ketentuan Negara
23. Vaksin Halal: Langkah StrategisPercepatan Program Imunisasi Penyediaan Vaksin Halal adalah salah satu langkah strategis percepatan program imunisasi Penggunaan konsumsi halal, termasuk di dalamnya obat adalah tuntutan agama yang merupakan hak warga negara dan dilindungi oleh konstitusi Ketiadaan Vaksin Halal menjadi dosa sosial ilmuwan. Tanggung jawab kolektif:  mewujudkan vaksin halal Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan penelitian yang serius agar menemukan vaksin meningitis yang halal. Para ilmuan dan Ulama harus melalukan ijtihad dan jihad keilmuan untuk menemukannya. Untuk memenuhi kebutuhan umat Islam, maka wajib hukumnya bagi para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penemuan vaksin halal.
24. Penutup1. Imunisasi dan Vaksinasi dalam sudut pandang Islam pada dasarnya dibolehkan, untuk mencegah terjadinya penyakit.2. Penggunaan vaksin yang mengandung atau bersinggungan dengan unsur yang diharamkan, maka hukumnya haram. Dengan demikian, keharamannya bukan pada tindakan vaksinasi, namun karena vaksinasi dengan vaksin yang diharamkan.3. Dalam hal tidak (atau lebih tepatnya belum) ditemukannya vaksin yang halal, vaksin yang haram dapat digunakan terkait dengan adanya kebutuhan yang mendesak (li al-hajah). Dalam hal ini, kebutuhan untuk menunaikan kewajiban, yaitu ibadah haji.4. Dengan demikian esensinya tetap haram, namun dibolehkan. Kebolehan penggunaan vaksin yang haram tidak merubah esensi keharamannya.5. Pembolehan penggunaan vaksin meningitis yang haram bersifat kondisional (pada kondisi mendesak untuk dibutuhkan) dan temporal (hingga ditemukan vaksin yang halal). Di luar dua keadaan tersebut, tidak dibolehkan.6. Temporalitas pembolehan penggunaan vaksin yang haram, secara implisit mewajibkan bagi umat Islam, khususnya para peneliti di bidang vaksin untuk melakukan penelitian dan menemukan vaksin pengganti yang halal.
25. Terima Kasih….

Sumber : http://www.slideshare.net/gusfeb99/mui-imunisasi-halal