Belajar dari tukang parkir

Ini adalah sebuah tulisan hikmah yang di tulis oleh seorang penyair demonstran. Tulisan ini pernah di publish di kompasiana.com.Semoga tulisan ini membawa hikmah untuk yang membaca. Berikut tulisannya mengenai Belajar dari tukang parkir.

Belajar dari Tukang parkir

Kita sudah tidak asing lagi dengan jasa tukang parkir dan boleh jadi kita punya cerita yang unik, lucu atau mungkin membuat kita kesal sama si tukang parkir dan segudang cerita lain tentang si tukang semprit ini….benarkan?

Sipp…perusahaan yang di tuju sudah ada di depan mata, sekarang tinggal cari tempat parkiran. Alhamdulillah tidak begitu lama akhirnya dapat juga tempat tempat parkir.

Selesai bertemu dengan seorang teman di salah satu perusahaan, segera mencari kendaraan yang saya parkirkan tadi. Kenakan jaket, pakai helm lalu segera hidupkan mesin motor dan sejurus kemudian si tukang parkir sudah berdiri di samping saya. Dua ribu bos! “kata si tukang parkir.” Langsung saya memberi sejumlah uang yang di minta tukang parkir.

Tadi ketika datang si tukang parkir batang hidungnya saja tidak ada dan pas saya mau keluar ehh datang dia dan minta dua ribu lalu segera pergi secepat kilat meninggalkan saya. Setelah geser-geser sedikit motor yang ada di sisi kanan kiri, barulah saya bisa keluarkan motor dengan nyaman walau tanpa bantuan si tukang parkir yang sudah pergi entah kemana, mudah-mudahan belum di telan bumi…heheh, sori bercanda.

Ini cerita berikutnya di tempat lain. Bos…mau keluar ya motornya? “Tanya si tukang parkir.” Iya, jawab saya. Tenang..gue pinggirin dulu nih motor, “ sambil si tukang parkir menggeser motor di samping saya.” Silakan bos lanjut perjalanan! Oya dua ribu aja ongkos parkirnya..nih, sambil memberikan dua lembaran ribuan. Terima kasih ya bang parkir.

Nahhh…yang ini baru special pakai telor gan…heheh. Pak boss, mana motornya? Itu mio hitam. Oke..pak boss tunggu aja di situ, boleh saya minta kunci motornya? Yup silakan, nih kunci motornya. Saya tinggal terima beres dan tidak sampai dua menit motor sudah ada di hadapan saya. Hmmm, rupanya si tukang parkir benar-benar memanjakan pelanggannya. Asyik juga nih tukang parkir, saya suka dengan gaya pelayanannya…muantapss broo!

Dan uniknya, si tukang parkir itu tidak minta tambahan bayaran atas pelayanan yang di berikan. Bayarannya sama cuma dua ribu saja seperti dua cerita tukang parkir sebelumnya.

Apa persamaannya?

Yup betul. Sama-sama punya usaha jasa di bidang perparkiran. Harganya sama-sama dua ribu, yup anda betul lagi. Si tukang parkir yang ada di cerita itu lelakikan? Heheh..iya betul.

Hmm, apalagi persamaannya?

Terus, kenapa bisa beda pelayanannya?

Saya dapat pelajaran berharga tentang arti pelayanan dari si tukang parkir ke tiga, bahwa memberi lebih bukan berarti harus meminta bayaran lebih tinggi juga.

Terima kasih ya bang atas pelayanan parkirnya.(penyair demonstran)