Secangkir teh dan secangkir harapan sebuah tulisan di malam hari yang dingin

Secangkir teh dan secangkir harapan sebuah tulisan di malam hari yang dingin suara kendaraan terdengar walau jauh terdengar. Hujan rintik telah berlalu membawa angin segar di pagi dini hari yang masih pekat. Kekasih tercinta membangunkan diri ini yang telah tertidur di bawa angin malam yang sunyi sepi sendiri. Telah kutulis dulu secangkir harapan dalam sebait puisi yang kutulis di pagi hari yang indah. Dengan secangkir teh kubuat untuk menulis di pagi buta yang sunyi tanpa suara hujan yang hilang. Entah kemana

Malam hari yang dingin membawa selaksa pengharapan tuk esok yang cerah membawa angin perubahan bagi orang yang mau bergerak maju demi sebuah kehidupan nyata. Bukan sebuah maya atau sebuah angan-angan kosong di siang bolong. Terdiam semu, dingin dan tak beraturan. Sedih,pilu dan tangisan sebuah kata pasti dalam kehidupan yang penuh hiruk pikuk. Namun secangkir teh dan secangkir harapan membawa angin perubahan. Sama seperti judul sebuah lagu  Wind of change. Teringat kisah di malam dingin di suatu tempat ketika hujan membasuh bumi dan tanah,bebatuan tergerus turun ke bawah. Longsor di perbatasan riau dan sumatra barat. Iwan nama itu kuingat dalam sebuah perjalanan yang mendebarkan , entah kemana ia saat ini. Dingin mengigil saat itu dan hujanpun turun teramat deras. Gigi gemeretak tak sangup menahan dingin di perbatasan riau dan sumatra barat. Hilang lenyap sudah kisah perjalanan yang mendebarkan di pagi buta yang mencekam. Namun kin secangkir teh dan secangkir harpan di malam ini tetap tertulis. Sebuah kisah perjalanan yang tak terlupakan.

Aku hanya terdiam walau dingin meyelimuti diri. Air hujan itupun masih kuingat ya ketika bebatuan meluncur dan tanahpun longsor menuju jalanan tempat kami berkendaraan. Mungkin hanya kami yang berani melewatinya ketika itu. Oh masih adakah kawan yang hilang itu kini kembali. Sebuah memory di pagi buta mengingatkan kisah lama yang telah terlupa. Bukan secangkir teh yang kuminum saat itu namun secangkir kopi yang nikmat manis dan agak pahit. Aku membayangkan mungkinkah aku melewatinya lagi dengan sebuah kendaraan yang bernama kereta bila orang melayu menyebutnya. Atau honda orang maninjau mengatakannya walau bermerk yamaha sekalipun. Ya motor itulah yang melewati longsor di pagi buta yang dingin. Kini semua itu tinggal kenangan bersama kawanlama yang tak terlihat lagi entah kemana. Kisah bersama kawanlama Januari 2003 di perbatasan Riau sumatra barat. Kini secangkir teh dan secangkir harpan menjadi sebuah tulisan di malam hari yang dingin kini  sudah beranjak pagi. Sukses buat iwan atas loyalitasnya dan persaudaraannya. Semoga Allah membalas kebaikannya Aamiin.