Ketika malam dalam sudut sempit

Desiran angin malam dalam suasan dingin mencekam. Sepi hanya terdengar suara kendaraan dari jarak yang cukup jauh bisa jadi sekitar 2-3 km. Maklum selepas hujan terbiasa dengan sunyi sehinga suara apapun terdengar. Ya itulah di sebuah pedesaan yang terpencil . Jangkrik  terdengar dan kodokpun sepertinya asik menikmati malamnya bersama rawa-rawa itu. Ya itulah suasan sunyi hening tapi mencekam , kami lupa entah kapan kejadian ini. Kamipun sedang mengingat-ingat kejadian itu namun tetap terlupakan.

Tentu saja setiap kejadian tidak selalu kita ingat dan tidak selalu akan kita ingat. Bila saja semua kejadian kita ingat. Hmm bisa jadi otak kita akan paling tidak sedikit bekerja keras. Namun mengapa sebuah pristiwa tiba-tiba  ingat walaup entah dimana. Seolah ketika mengingat kita seperti pada sudut yang sempit ketika malam gelap gulita. Apa yang di maksud sudut sempit adalah cara pandang dalam memahami sesuatu secara sederhana/pragmatis yang biasa secara spontanitas.

Ketika sebuah kejadian politik berlangsung seluruh mata memandang dalam cakrawala pikir yang di pengaruhi oleh apa yang dilihat di dengar dan di rasakan. Namun sudut padang sempit melihat sesuatu apa yang telah di tampilkan yang disuguhkan oleh media. Bisa jadi kita akan terpengaruh oleh apa yang di suguhkan. Ya sudahlah itu sebuah pristiwa yang sudah sering terjadi. Sudut yang sempit di dalam kegelapan malam sama seperti saudara kita yang terjebak di lantai basement OUB PLAZA. Di dalam basement yang gelap gulita

Iklan