TIMNAS U-19, ANTARA IDEALISME DAN CENGKERAMAN MAFIA PSSI

horreee indonesia juara, akhirnya timnas sepakbola kita bisa juara

walau di kelompok yunior usia 19 tahun, tapi hal ini bisa sedikit memberi sedikit angin segar kepada kondisi persepakbolaan kedepan

usia yang masih bisa menjanjikan kedepannya dan masih bisa merengkuh banyak gelar buat indonesia

ASAL

tidak ada intervensi mafia sepakbola indonesia

perlu diketahui, dulu pelatih timnas U-19 indra sjafri pernah ‘akan’ dicongkel dari posisi nya

kedekatan indra sjafri dan anak asuh nya sebenar nya sudah memberi banyak bukti kemenangan, contohnya mengalahkan pakistan dan hongkong

tetapi sejak para mafia bola indonesia kembali menguasai PSSI

posisi indra sjafri seolah olah menjadi posisi yang digadangkan

dari rencana tukar guling dengan blanco yang pernah menjadi pelatih timnas senior, dan timnas rencananya di latih kembali alferd riedl

namun, Allah memberi rencana lain, timnas U-19 masih dilatih indra sjafri, sementara posisi pelatih timnas senior pun sempat tak menentu, sebelum akhirnya jacsen f tiago yang menjadi pelatih, sebagai jalan tengah kubu pro alferd riedl vs kubu pro blanco

bahkan, isu pembubaran timnas U-19 yang dilatih indra sjafri sempat menjadi solusi, dan timnas U-19 akan diisi pemain SAD Indonesia yang di didik di uruguay (proyek mafia)

sepakbola indonesia tidak pernah juara takkala timnas nya adalah ‘penguasaan’ mafia

alhamdulillah, timnas U-19 yang dilatih indra sjafri adalah team bentukan hasil rekrutan yang idealisme ketua PSSI djohar arifin akibat boikot klub klub mafia LSI

ketia mafia (la nyalla cs) kembali, maka proyek proyek idealisme pun mulai dibidik untuk dibubarkan dan diganti dengan mau nya para mafia (la nyalla cs)

coba lihat, bukti timnas ini murni proyek idealisme dan bukan proyek mafia adalah ketika bicara perhatian dan bonus yang diberikan

mana itu la nyalla cs berada, ketika final AFF U-19 diadakan, cuma ketua umum djohar arifin yang ada

lalu lihat, ketika timnas bentukan mafia yang akan bertanding, belum menang saja sudah bicara bonus bonus yang akan diberikan, sangat jauh berbeda dengan perhatian dan perlakuan kepada timnas U-19, mereka bertanding, bonus pun belum terlihat dan hanya beasiswa beasiswa

mungkin beda, kalo proyek mafia kan bicara fulus dan keuntungan keuntungan sementara urusan juara nomor paling belakang

mungkin benar isu skandal yang pernah diterbitkan majalah malaysia, bahwa timnas indonesia menerima suap ketika bermain di bukit djalil dan mau menerima kekalahan 3-1 dari malaysia

kalau ada yang punya rekaman nya pertandingan timnas indonesia vs malaysia di bukit djalil, coba cek permainan maman abdurrahman dan M.Ridwan, yang setengah hati dan cenderung membiarkan

para mafia membuat timnas menjadi barang dagangan

maka itu pantas lah, timnas tidak.pernah menang menang

berbeda dengan proyek idealisme pada timnas U-19 indra sjafri

kemenangan pun kembali menjadi jawaban dan hasil yang direngkuh

hmmmmmm

mafia (la nyalla cs) memang sudah buat persepakbolaan indonesia seperti dagangan

dagangan keuntungan serta pengijakkan pada nilai nilai nasionalisme

nurdin halid tak lebih mirip soeharto alias cendana nya sepakbola nasional

ketika lengser pun, meninggalkan para mafia mafia sok kuasa di PSSI

dasar mafia kurang ajar!!!, garuda mu di kantong

-bang DW-