Suatu malam di sudut kota

Suatu malam di sudut kota, berjalan di iringi lampu – lampu yang tampak indah  terlihat. Malam itupun  aku berjalan menelusuri jalan yang akan kutuju dalam sebuah theater jalanan  di sudut kota itu. Aku berdiri tetap menatap dengan tajam ke arah kerumunan orang yang tampak santai sambil menonton sebuah theater jalanan. Melangkah mendekat melalui orang-orang yang masih menghimpit.Duduk lalu bersantai dan tersenyum dan bicara dengan orang di sekitarku. Tampak serius dan maksimal sang seniman menghargai peran yang di tampilkan. Sebuah alur cerita telah di persembahkan dalam sebuah teater jalanan. Sebuah konsep idealis yang seringkali bermakna sarkasme bagi yang memperhatikan setiap bait dan bahasa tubuh yang di tampilkan. TErlalu serius untuk memaknai sebuah arti apa yang dinamakan sebuah kritik sosial. Apa memang seperti itu untuk menampilkan dunia teater. Tentu saja bebas memilih tema yang di suguhkan.

Aku hanya terpikir dan merenung pada suatu malam di sudut kota. Memaknai karya-karya orang lain yang terus berjuang bagi makna dirinya. Itulah potret seorang seniman untuk menghargai dirinya sendiri. Melepaskan ide ide kreatif di suatu malam di sudut kota. Malam semakin larut orang-orangpun pulang dengan membawa pikirannya masing-masing. Akupun pulang dalam sudut kota yang semakin sepi. Bersyukur telah menikmati malam yang indah di suatu kota,entah kapan aku kembali. Berhenti memandang sekeliling pada suatu malam di sudut kota . Aku kan kembali suatu ketika , entah kapan …..

Ku tengok langit dengan bulan yang terang sambil mengamati mungkinkah wiji tukul ada di belakangku sambil juga berjalan di trotoar jalan yang sudah sepi , Sebuah kisah di kota T  dan tak mampu kulupakan.